Resiliensi perempuan muda korban perceraian dalam membangun konsep keluarga harmonis di Kabupaten Tangerang
Penelitian ini bertujuan untuk memahami resiliensi perempuan muda korban
perceraian dalam membangun konsep keluarga harmonis di Kabupaten
Tangerang. Perceraian orang tua seringkali meninggalkan dampak traumatis
pada anak-anak, termasuk perempuan muda. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk menggali pengalaman
enam perempuan muda berusia 18-25 tahun yang menjadi korban perceraian.
Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis
menggunakan teknik analisis data deduktif. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa perempuan muda korban perceraian mengembangkan resiliensi
melalui komunikasi yang terbuka dan jujur dengan orang-orang terdekat,
seperti ibu, saudara, teman, atau anggota komunitas. Mereka belajar untuk
mengatur emosi, mengontrol impuls negatif, dan mempertahankan
pandangan positif tentang masa depan. Faktor-faktor yang mempengaruhi
resiliensi mereka meliputi dukungan keluarga, jaringan pertemanan,
keterlibatan dalam komunitas, akses terhadap pengetahuan, dan keyakinan
pribadi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi resiliensi
memainkan peran penting dalam membantu perempuan muda korban
perceraian membangun kembali konsep keluarga harmonis. Mereka belajar
dari pengalaman masa lalu, mengatasi trauma, dan membentuk harapan untuk
masa depan. Temuan ini memberikan wawasan berharga bagi para
profesional, orang tua, dan masyarakat dalam mendukung perempuan muda
korban perceraian untuk membangun keluarga yang sehat dan bahagia
Detail Information